Wirausaha.com - Peluang Bisnis & Kewirausahaan: Vivit Arifin. Baby Born Face Video Clip, Jasa Shooting dan Pemotretan Kelahiran si Buah Hati Vivit Arifin. Baby Born Face Video Clip, Jasa Shooting dan Pemotretan Kelahiran si Buah Hati ================================================================================ wirausahacom on 04 May, 2007 08:00:00 BBFVC juga terhitung belum ada saingan, karena memang baru satu-satunya bisnis yang memberikan jasa shooting dan pemotretan proses penantian si kecil bagi para keluarga di Tanah Air. Sementara wanita lulusan London School ini mengatakan bahwa tujuan BBFVC adalah untuk menanamkan pada anak agar menghargai orang tua karena mereka bisa mengetahui bahwa melahirkan itu susah. Semua berawal dari hal yang biasa. Sebelum menjadi ide bisnis, Vivit yang tengah hamil anaknya ketiga berkeinginan untuk mengabadikan momen-momen penting menanti kelahiran. Keinginan yang kemudian didukung oleh sang suami, menghasilkan sebuah rekaman momen-momen indah dan menegangkan bagi keluarga tersebut. Setelah dilakukan editing, rekaman diberi hiasan musik sehingga terbentuklah sebuah rekaman berbentuk video klip. Tapi ternyata kemudian video klip tersebut tak hanya sekedar arsip untuk dilihat keluarga. Teman-teman Vivit yang melihat hasil rekaman tersebut ternyata merasa tertarik dan berkeinginan untuk direkam dengan proses serupa. Tak mau ketinggalan momen, mantan juara II Top Guest Majalah ANEKA tahun 1993 dan juara II Wajah Femina 1998 ini pun menangkap jasa perekaman persalinan sebagai peluang bisnis. Akhirnya BBFVC dimulai dengan modal foto, kamera, dan mesin editing. Vivit mengklaim modal awal tersebut tidak lebih dari Rp100 juta. Kru BBFVC ketika itu baru tiga orang. Keunikan bisnis ini, semua personil BBFVC adalah perempuan. “Semua kru perempuan dengan tujuan untuk memberikan kenyamanan kepada pelanggan,” urai Vivit. Konsep bisnis pun dirancang. Kerjasama dikembangkan dengan berbagai rumah sakit. Dengan demikian fasilitas pembayaran dan pengambilan hasil rekaman bisa dilakukan pelanggan di rumah sakit. Sementara beberapa perusahaan produsen perlengkapan bayi dirangkul sebagai partner. Tantangan yang dihadapi di awal bisnis ternyata tak kecil. Dalam satu bulan bisa jadi hanya ada 3 permintaan paling banyak. Banyak orang merasa risih untuk diabadikan momen melahirkan oleh orang lain. Tapi itu lah, Vivit mengaku membangun bisnis tersebut dengan penuh keyakinan sukses. “Dari awal Saya yakin kalau jasa pengabadian momen persalinan akan dibutuhkan orang,” kata Vivit. Benar saja, BBFVC akhirnya dapat mencapai Break Even Point (BEP) pada tahun kedua usaha. Saat ini tercatat sekitar 12 rumah sakit dalam proses kerjasama serta 9 perusahaan perlengkapan bayi sebagai sponsor. Klien diberi kartu anggota yang berlaku satu tahun, akan mendapat fasilitas diskon pada saat membeli produk di perusahaan perlengkapan bayi dimana BBFVC bekerjasama Kini Vivit sudah bisa menikmati hasil usahanya. Ketika wirausaha.com diajak ke studio tempat BBFVC mengedit dan mengolah hasil rekaman menjadi video klip, papan daftar rencana kerja menunjukkan bahwa tak ada minggu dalam sebulan yang lepas dari list klien. Biaya yang harus dikeluarkan klien untuk mendapatkan foto dan video klip bisa dilihat dalam bentuk paket. Biaya paket A yaitu Rp5 juta berisi video klip berdurasi 40 menit berisi 14 macam liputan diantaranya cerita personal orang tua, tujuh bulanan, kontrol ke dokter, lahiran, hingga proses lahiran, dikemas dalam bentuk DVD dan VCD. Sementara paket lebih murah Rp3 juta bagi dengan jenis liputan lebih sedikit dan video klip dihasilkan berdurasi 20 menit. Produk lain yang ditawarkan, eksklusif foto album 40 halaman dengan biaya Rp1,5 juta. Biaya tersebut menurut Vivit tak bisa dibilang mahal. “Coba bandingkan dengan waktu yang dihabiskan untuk menunggu waktu-waktu seorang Ibu melahirkan. Kru harus siap menunggu berjam-jam bahkan seharian untuk itu,” ujarnya. Belum Ada Peluang Waralaba Usaha yang kini telah berkembang dan didukung 15 personil tersebut selain Jakarta juga telah mulai dikembangkan di Bandung dan Jogyakarta. Ibu dari Kenzie Danendra (2 tahun) ini tak menutup kemungkinan untuk lebih mengembangkan BBFVC ke kota-kota lain. Hanya saja untuk menjadikannya sebagai format bisnis waralaba,meskipun banyak permintaan berdatangan, Vivit menyatakan belum ada keinginan untuk itu. Alasannya, tak mudah untuk menyerahkan bisnis tersebut kepada orang lain. “Tentunya ada standar-standar yang harus dijalankan untuk bisnis ini dan Saya khawatir orang lain kan belum tentu bisa,” ujarnya. Oleh karena itu Vivit memilih untuk menjalankan sendiri BBFVC dengan pelan-pelan. “Sementara bisnis BBFVK telah dipatenkan tidak hanya bisnis BBFVC nya saja tapi juga alur ceritanya,” kata wanita yang dalam satu tahun terakhir juga melebarkan usaha dengan menggarap acara ulang tahun anak-anak ini bangga. (SH)