Wirausaha.com - Peluang Bisnis & Kewirausahaan: Dicari, UKM yang Berminat Jadi Franchise Unggulan! Dicari, UKM yang Berminat Jadi Franchise Unggulan! ================================================================================ wirausahacom on 24 March, 2007 02:35:00 Partisipasi pelaku UKM sebagai penggerak roda perekonomian sektor riil semestinya selalu ditingkatkan. Karena faktanya, sekitar 90%-an dari perusahaan yang ada di Indonesia merupakan usaha dengan kategori UKM. Sementara beberapa kesan masih melekat dengan sebuah istilah UKM. Kurang akses informasi, tidak feasible, atau tidak bankable. Lantas jalan apa yang harus ditempuh para UKM agar dapat berkembang? Bagi para pebisnis UKM yang ingin mengembangkan usaha, sistem waralaba bisa menjadi salah satu solusi. Apa yang kemudian terbayang dalam benak Anda para pebisnis? Mungkin muncul tidak percaya diri karena bingung untuk memulainya, atau butuh merogoh kocek tebal untuk ini. Tapi eit, jangan keburu patah semangat dulu. Kunci sukses yang paling utama yang paling diperlukan saat ini adalah keinginan dan kemauan yang kuat untuk berkembang. Pilihan menjalankan sebuah usaha menjadi bisnis waralaba memang tak sembarangan. Sejumlah kriteria harus dimiliki untuk itu. Namun bagi pebisnis yang jeli membaca peluang dan rajin mencari informasi, pembinaan untuk merintis usaha tersebut mungkin bukan hal yang asing lagi. Salah satunya, program pemberdayaan bagi para UKM yang tengah dijalankan Asosiasi Franchise Indonesia (AFI). Ketua AFI Anang Sukandar memaparkan, program yang telah dimulai untuk tahap awal di Jogyakarta tersebut memberikan pembinaan bagi para UKM yang mau menjadi franchise unggulan. Untuk program di daerah tersebut dibimbing oleh bapak asuh dan juga konsultan. Hanya untuk yang Serius Adapun tahapan pembinaan yang diberikan, dimulai dengan tahap identifikasi usaha. Setelah diketahui tingkatan sebuah usaha, barulah usaha binaan dibimbing ke tingkat tertentu. Namun tentu saja tak serta merta semua UKM bisa mengikuti program tersebut. Anang menyebutkan, hanya usaha dengan kriteria serius yang bisa mengikuti program tersebut. Serius dalam arti suatu usaha telah memiliki organisasi embrionya. Pertama, sebuah usaha memang ada yang membangunnya atau istilah modernnya production management. Selain itu usaha juga telah memiliki pembukuan (financial management and control). Ketiga, usaha memiliki bidang penjualan (sales and marketing). Meski pada kenyataannya banyak usaha yang dikelola satu tangan untuk ketiga urusan tersebut, menurut Anang tidak masalah, karena ke depan akan bisa dikembangkan lagi. Menyentuh UKM hanya hingga daerah pusat pemerintahan (Jakarta-Red) juga tak akan begitu banyak membantu. Seperti diketahui, keberadaan usaha pada skala ini menyebar hingga ke daerah-daerah di Tanah Air. Masih banyak usaha di daerah yang butuh pendampingan. Menyusul Jogyakarta, selanjutnya program serupa menurut Anang juga akan segera digelar di Jawa Barat, Surabaya, Malang dan Denpasar. Hanya saja Anang menyayangkan ketidakpedulian pemerintah daerah setempat pada program-program yang digelar tersebut. Semestinya dengan perhatian Pemda (salah satunya dalam hal biaya pembinaan-Red) dapat membantu mengembangkan usaha-usaha berpotensi yang ada di daerahnya. Lantas jika bukan Pemda, siapa yang menanggung biaya pembinaan tersebut? “Sepertinya Bapak asuh harus mengeluarkan dananya untuk itu,” ujar Anang. (SH)