Solusi TI Lebih Murah di Bagian Penjualan UKM
Selain pemerintah yang mulai menggalakkan pengembangan UKM, beberapa bidang bisnis satu per satu mulai membidik skala usaha ini sebagai target pasar. Tak ketinggalan, di bidang pengembangan teknologi informasi, para vendor dan penyedia jasa layanan (ASP) TI (teknologi informasi) telah melihat skala usaha ini sebagai peluang pasar. Melirik ke negeri Tirai Bambu, Cina, sebagai cerminan solusi teknologi bagi usaha kecil dan menengah merupakan bisnis besar. Belanja TI kalangan UKM di negara tersebut bisa mencapai US$ 22 miliar. Sebuah lahan yang menggiurkan bagi berbagai perusahaan teknologi.
Bicara penetrasi pasar IT pada UKM juga masih sangat besar. Hal ini sebenarnya tidak terlalu mengejutkan, karena dari hasil sejumlah riset terlihat bahwa penetrasi TI di sektor UKM masih sangat rendah. Jikapun ada beberapa UKM yang telah berhasil menerapkan konsep TI, biasanya masih berada pada tahap awal dalam metode penerapan dan pengembangan konsep e-business (infancy stage), karena masih sebatas dipergunakannya fasilitas dasar semacam email, website, dan chatting untuk membantu aktivitas sehari-hari. Padahal banyak sekali fungsi TI yang dapat membantu UKM. Jika ditanyakan seberapa besar TI telah digunakan para UKM, tidak lebih dari 20%, sebagai jawaban dari beberapa pengamat TI.
Sebuah harapan muncul dari kenyataan bahwa kebutuhan IT solution kini tidak lagi terfokus pada segmen enterprise atau dunia usaha besar. Soalnya, pasar untuk level ini boleh dibilang terbatas dan tidak banyak perubahan dari sisi customer. Sementara pada sisi lain, pertumbuhan usaha kecil menengah (UKM) mulai merasakan kebutuhan akan solusi teknologi informasi.
Pada beberapa perusahaan menengah, solusi-solusi bisnis seperti ERP (electronic resources program) dan CRM (customer relationship management) sudah banyak diimplementasikan. Kedua solusi yang banyak diminati tersebut memberi nilai tambah kepada perusahaan dalam menghadapi persaingan bisnis di pasar.
Alhasil membidik pasar UKM menjadi salah satu strategi para vendor memperkuat pasar. Sebut saja beberapa penyedia software besar IT seperti Microsoft, SAP, Oracle, IBM dan Hawlet Packard, telah menyatakan komitmennya untuk memberikan solusi TI bagi UKM di Tanah Air. Lantas seperti apa solusi yang ditawarkan para penyedia piranti lunak dan jasa TI bagi para UKM?
Mudah dan Murah
Ceruk pasar yang ditangkap para vendor TI di Tanah Air dari skala usaha ini tentunya tak main-main. Sebut saja kebutuhan TI untuk mendukung keberhasilan di bidang penjualan, solusi Costumer Relationship Management (CRM) siap diberikan. Seperti diketahui, CRM sebagai salah satu istilah dalam industri TI untuk metodologi, strategi, software (perangkat lunak) dan atau aplikasi berbasis web lainnya yang membantu sebuah usaha mengelola hubungan dengan para pelanggan. CRM merupakan sebuah sistem untuk mengolah data konsumen sehingga dapat diciptakan strategi untuk meretensi konsumen tersebut agar tetap loyal.
CRM yang mulai diperkenalkan secara global sekitar tahun 1990-an ini di Indonesia rata-rata ditawarkan dalam hal mudah digunakan, dapat diadaptasikan, serta ditawarkan dengan harga terjangkau. Beberapa vendor yang telah menawarkan antara lain PT Microsoft Indonesia, IBM, PT SAP Indonesia, dan PT Oracle Indonesia.
Selain vendor TI yang menawarkan solusi CRM, otomatis UKM juga menjadi lahan menjanjikan bagi perusahaan penyelenggara ASP (application service provider) atau penyedia layanan aplikasi yang menawarkan jasa pelatihan, layanan up grade dan back up data untuk bidang ini. ASP juga berperan perusahaan yang menyediakan jasa penyewaan aplikasi. Dengan jalan ini pengguna tidak perlu lagi memiliki satu set aplikasi perangkat lunak lengkap di kantornya. Yang dibutuhkan bias anya sekadar front end yang relatif kecil atau bahkan sekadar web browser. Berbeda dengan membeli sebuah lisensi, dimana user membayar seluruhnya untuk software, meski tidak semua program atau modul dia gunakan, tidak demikian halnya dengan ASP. Pada ASP, user hanya membayar atas apa yang dia gunakan. Tentu saja dari sisi harga jelas lebih kompetitif. dibandingkan dengan jika membeli lisensinya.
Hosted Model VS In House Model
Tak hanya tawaran solusi bisnis dalam bentuk in house yang bisa menjadi pilihan UKM. Secara global, pilihan lebih menggiurkan akan lebih banyak berdatangan dari hosted model. Salesforce.com hadir sebagai pionir pada hosted model. Perusahaan penyedia solusi CRM on-demand yang bermarkas di San Francisco, California tersebut menyediakan platform online yang dinamai AppExchange--layanan online untuk berbagi aplikasi bisnis. Dengan AppExchange ini, perusahaan kecil-menengah bisa membuat dan mengoperasikan aplikasi bisnis mereka dengan mudah dan murah. Kini terdapat lebih dari 150 aplikasi bisnis dalam direktori AppExchange. Beragam jenis aplikasi tersedia dalam lima kategori: sales, service & support, marketing, finance & administration, dan human resources. Aplikasi itu termasuk data cleansing, keuangan, tanda tangan elektronik, pengelola dokumen, dan personalia.
Aplikasi lain yang bisa disesuaikan dengan kebutuhan adalah mengambil tagihan pelanggan dari aplikasi pengelolaan dokumen perusahaan dan memberikannya kepada staf pemasaran. Untuk mendapatkan semua layanan ini, Bennett's, salah satu pengguna membayar biaya lisensi US$ 84 per bulan per pengguna (sekitar US$ 30 ribu per tahun).
Jejak salesforce.com yang kemudian diikuti RightNow Technologies Inc, ternyata juga dilirik oleh berbagai vendor IT besar dunia. Setelah Microsoft dan Oracle, SAP juga memasuki pasar software on-demand beberapa tahun ini. Di luar, SAP saat ini telah menawarkan aplikasi hosted CRM.
Berbagai perusahaan, khususnya di AS, kini semakin banyak menyertakan pilihan model hosted delivery. Siapa yang tidak tergiur dengan apa yang ditawarkan model hosted CRM. Misalnya total cost of ownership (TCO) yang lebih rendah, return on investment (ROI) yang lebih cepat, dan sebagainya. Pertanyaannya, bagaimana model tersebut akan ditawarkan lebih lanjut di Tanah Air? Mari tunggu perkembangannya. (SH)




del.icio.us
Digg
Comments (0 posted):
Post your comment