Menu
Home | Kolom Bisnis | Pemasaran, Periklanan & Ritel | Saatnya Memasarkan Tidak Terikat Teori

Saatnya Memasarkan Tidak Terikat Teori

Font size: Decrease font Enlarge font

 

Setidaknya demikian Kafi Kurnia bertutur tentang intrik pemasaran dalam bukunya Anti Marketing (tahun 2005). Anti Marketing dalam tulisan tersebut didefinisikan sebagai intrik pemasaran yang tidak dipelajari dari buku dan tidak dilandasi oleh teori apa pun. Gerakan yang diambil para pemasar anti marketing adalah tindakan intuitif, spontan dan tulus dari dalam hati, serta satu lagi, selalu berimprovisasi.

Ini memang bukan ilmu baru. Kafi sendiri mengakui bahwa telah banyak usaha-usaha di dunia yang sukses menjalankan bisnisnya dengan menjalankan intrik tersebut. Selanjutnya setiap bab dari tulisan tersebut memberikan hal-hal penting yang bisa dijadikan acuan untuk menerapkan anti marketing. Berikut diuraikan beberapa bagiannya.

Pada kehidupan sehari-hari tindakan atau kegiatan abnormal biasanya cepat dipandang sebagai hal negatif. Tapi bagi pemasar yang menangkap gejala abnormal jangan mengikuti kebiasaan ini. Sebab, siapa tahu justru dari sesuatu yang abnormal tersebut terdapat peluang inovasi. Contohnya ulah Linus Torvalos yang menciptakan program Linux selama enam bulan namun kemudian program ternyata tidak dipatenkan dan dijual melainkan disebarkan lewat internet, dikoreksi dan dikembangkan rekan-rekannya. Bagi orang yang secara cepat menilai negative mungkin mencemooh tindakan tersebut. Tapi lihat hasilnya, ulah abnormal tersebut justru menciptakan model bisnis baru bernama open-source, di mana semua orang dapat berpartisipasi mengembangkannya. Linux sangat berkembang cepat, menghemat ongkos, waktu dan sangat efisien.

Pada bab lain, Kafi mengajak pemasar untuk berani membudayakan ide-ide gila sebagai motivasi pemberdayaan inovasi. Tapi untuk ini pemasar ditantang untuk dapat meramu ide-ide tersebut menjadi sukses secara komersial.

Marketing intelligence merupakan sebuah intrik untuk menebak arah langkah pesaing. Ada empat tahapan yang diberikan, yaitu perencanaan, pengumpulan informasi, kemudian dianalisis untuk kepentingan strategi bisnis, sehingga hasilnya bisa disebarkan ke seluruh bagian organisasi yang membutuhkan sehingga manfaatnya bisa dipraktekkan.

Membidik target dengan cara mengetahui kemauannya bisa jadi intrik bagus dalam sebuah pemasaran. Di sini, mengenal profil konsumen dengan memperhatikan perilaku sangat berguna bagi sebuah usaha terutama dalam hal pengembangan produk.

Selanjutnya pemasar juga ditantang dalam hal kemampuan memanfaatkan momen-momen yang mendorong membludaknya konsumen disebabkan situasi, sebagai ajang berpromosi. Tulisan tersebut memberi contoh masa-masa menjelang hingga ketika lebaran yang ditandai dengan meningkatnya permintaan di berbagai produk. Usaha yang biasanya sepi bisa saja menjadi ramai. Nah, bagi yang bisa memanfaatkan momentum, inilah ajang tepat untuk berpromosi dengan biaya yang tak terlalu mahal. Caranya, menciptakan nilai tambah sehingga konsumen yang tadinya berkunjung karena iseng atau terpaksa karena tidak tersedia tempat lain berkeinginan untuk berkunjung kembali di masa selanjutnya. Tindakan tidak menaikkan harga berbeda halnya dengan yang dilakukan pesaing bisa sebagai salah satu pilihan.

Masih banyak intrik-intrik pemasaran yang masih bisa dikutip dari Anti Marketing. Namun pada dasarnya, tulisan tersebut mengajak pemasar agar dapat bergerilya mengamati perilaku-perilaku bisnis, serta mencari dan menciptakan ide-ide inovatif. Sekali lagi, semuanya dilakukan secara intuitif, spontan, dan tulus dari hati. (SH).

Comments (0 posted):

Post your comment comment

Please enter the code you see in the image:

  • email Email to a friend
  • print Print version
  • Plain text Plain text
Rate this article
0